Layman's Guide— Indonesian translation
Extracted text from Indonesian_Layman's_Guide_12JAN2018.pdf:
Penjelasan untuk orang awam tentang gagasan-gagasan berhubungan dengan penentuan teks asli Perjanjian Baru (yaitu Kitab Suci Injil dari Tuhan Yesus Kristus yang ditulis dalam bahasa Yunani oleh rasul-rasul-Nya) suatu pandangan minoritas Abstrak: Ada sekitar 6000 naskah Perjanjian Baru dalam bahasa asli, yaitu bahasa Yunani, yang masih ada pada kita. Dari naskah-naskah itu, ada yang merupakan Perjanjian Baru yang lengap, ada yang berisi beberapa kitab, ada yang berisi satu kitab saja, bahkan ada yang berisi beberapa ayat saja. Dengan penerapan beberapa prinsip yang dijelaskan nanti dalam karangan ini, kita dapat membandingkan apa yang tertulis dalam naskah-naskah ini, dan pada akhirnya kita dapat menentukan teks Perjanjian Baru yang sedapat mungkin sama dengan teks asli, yang ditulis oleh para rasul pada abad pertama. Teks yang dihasilkan itu disebut bentuk teks Byzantium. Dalam makalah ini kami usahakan membuktikan bahwa teks Byzantium tersebut lebih unggul daripada teks yang dihasilkan oleh pendekatan pengupasan utama lainnya, yaitu pendekatan yang memilih dari berbagai sumber. Bentuk teks Byzantium itu telah banyak dipakai sepanjang sejarah gereja berabad-abad dan, kami percaya, teks tersebut layak tetap memperoleh tempat utama dewasa ini. Kesimpulan ini bukan karena teks itu adalah hasil dari berbagai penelitian, walaupun memang memperoleh dukungan penelitian yang luas, melainkan karena memang demikianlah adanya teks itu. Catatan: sedikit sekali gagasan-gagasan berikut ini berasal dari penulis sendiri. Malah penulis hanya mencoba menjelaskannya supaya lebih mudah dimengerti oleh orang yang bukan ahli, supaya mereka boleh mendapat pemahaman yang lebih luas tentang gagasan-gagasan orang lain. Tujuan penulis adalah untuk menguraikan kembali gagasan-gagasan itu dengan cara yang lebih sederhana. Istilah-istilah yang tertulis dengan huruf miring dalam naskah ini, definisinya terdapat di daftar kata-kata pada bagian terakhir makalah ini. Kadang-kadang istilah tersebut diikuti dengan istilah yang sepadan dalam bahasa Inggris, yang ditulis dalam kurung dengan huruf miring dan ditandai tanda kutip, misalnya: kanonis (canonical); istilah-istilah itu tesusun dalam daftar kata menurut istilah bahasa Inggrisnya. Semua kutipan yang tidak disebut sumbernya di dalam tulisan ini diambil dari karangan-karangan Maurice Robinson, sebagaimana tertera di dalam daftar kepustakaan. Prakata: tentang kertas, tinta dan gaya huruf Hal menulis satu naskah tidak selalu semudah dengan dewasa ini. Pada zaman dulu sama sekali tidak ada komputer pribadi (baru ada tahun 1970-an), mesin ketik (mulai 1874), bahkan mesin cetak (huruf cetak yang dapat dipasang, tahun 1440-an). Dokumen ditulis dengan tangan, baik itu surat pribadi dan catatan maupun keputusan resmi. Kalau salinan dibutuhkan, maka dibuat satu per satu dan tentu saja ditulis dengan tangan. Waktu penulisan masing-masing kitab dari Perjanjian Baru, bahan kertas yang paling lazim dipakai ialah lontar papirus (sejak tahun 2400 sebelum Masehi), yang sering digabungkan menjadi gulungan surat (bahasa Inggris: scroll). Tinta dibuat dari beberapa bahan, seperti misalnya jelaga. Dan pena dibuat dari buluh yang ditajamkan yang diambil dari sejenis tumbuhan atau, pada zaman belakangan, bulu sayap dari angsa atau burung besar yang lain. Kulit binatang (perkamen, vellum), yang sudah lebih dulu disiapkan secara tepat, juga menjadi bahan alat tulis (pada pertama sejak tahun 1468 sebelum Masehi). Keuntungan kulit binatang adalah lebih tahan lama. Keadaannya yang merugikan ialah pembuatannya lebih mahal. Kertas seperti kita kenal dewasa ini baru dikenal di Timur Tengah pada akhir abad kedelapan. Sebelum itu, sudah ratusan tahun orang Cina tahu proses membuat kertas, tetapi pada tahun 795 Masehi orang Arab membawa kertas dari Cina sehingga kertas dikenal di Timur Tengah. Surat atau kitab yang ditulis oleh para rasul sendiriyaitu bukan salinan melainkan surat atau kitab yang asli dikenal dengan istilah bahasa Inggris autograph atau original manuscript. Istilah yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk itu, antara lain, adalah naskah asli atau manuskrip asli; tetapi dalam makalah ini kami akan memakai istilah tulisan asli. Kita tidak dapat menentukan secara muklak di atas bahan apa tulisan-tulisan asli (original manuscripts) Perjanjian Baru dituliskan karena semua tulisan asli telah binasa. Akan tetapi hampir semua naskah yang masih ada pada kita (extant) yang dibuat sebelum abad keempat tertulis pada papirus, sedangkan hampir semua naskah dari abad keempat sampai dengan abad keempat belas yang masih ada pada kita Indonesian Laymans Guide
1
1/12/2018
tertulis pada perkamen, yaitu kulit binatang. Mungkin naskah-naskah Perjanjian Baru yang pertama/asli ditulis dalam bentuk gulungan surat. Tetapi bukti pada kita sekarang menunjukkan bahwa sejak awal sejarah gereja, naskah-naskah disalin pada semacam buku dengan bentuk lain lagi, yaitu kodeks; untuk membuat kodeks semua lembaran halaman ditumpuk lalu dijilid (dijahit) satu sama lain pada satu sisinya, seperti buku yang kita kenal dewasa ini. Penulisan dalam huruf Yunani pada mulanya dibuat dalam bentuk unsial, yang tidak jauh beda dari huruf besar (huruf kapital) dewasa ini. Tulisan kursif, selangkah perubahan dari huruf unsial, mirip dengan tulisan tangan dan cetakan dengan huruf kecil dewasa ini, dipergunakan dalam tulisan yang bersifat pribadi. Baik tulisan unsial dalam dokumen yang resmi maupun tulisan kursif dalam dokumen yang tak resmi dipakai secara berdampingan selama berabad-abad. Semua naskah yang ditulis sebelum abad kesepuluh yang masih ada pada kita sekarang dibuat dengan huruf unsial. Pada permulaan abad kesembilan semacam tulisan yang disebut minuskul diperkembangkan khususnya oleh para penyalin yang bermaksud mempermudah tugasnya yang sulit. Dengan memakai tulisan minuskul itu, yang mirip tulisan kursif, para penyalin dapat menulis dengan cepat. Pada akhir abad kesepuluh semua naskah yang disalin (kecuali sebagian dari tulisan leksionari) dibuat dalam bentuk minuskul.
(1) Unsial. Naskah Yunani, abad keempat, tulisan unsial. Kodeks Sinaitikus (Leipzig, Royal Library, Cod. Frid. Aug.). Perikop: Ester 1:20-21. (dari Wikipedia)
(2) Kursif. Naskah Yunani dengan tulisan kursif kuno, papirus, dari tahun 545 Masehi. British Museum Papirus 1319. Isi: surat hutang (kontrak pribadi). (dari Wikipedia)
Indonesian Laymans Guide
2
1/12/2018
(3) Minuskul. Naskah Yunani, bentuk paling dini dari tulisan minuskul (kodeks vetustissimus), abad ke-10, (Florence, Perpustakaan Laurentian, Plut. Lxix). Isi: Thukidides, Perang Peloponnesos, kitab 4, pasal 88f. (dari Wikipedia)
(4) Contoh tulisan Yunani dari Abad-abad Tengah, hal. 80 dari The Languages of the World, oleh Stanley Wemyss (Philadelphia, STANLEY WEMYSS, 1950).
Indonesian Laymans Guide
3
1/12/2018
Dengan keyakinan besar kita dapat menyatakan bahwa pada waktu setiap tulisan/kitab dalam Perjanjian Baru dikarang, paling sedikit satu naskah/salinan dibuat dan dikirim kepada penerimanya. Selain itu, menurut kebiasaan pada zaman itu, mungkin si pengarang membuat dan menyimpan sebuah salinan yang lain. Kebanyakan tulisan Perjanjian Baru dialamatkan kepada seseorang yang tertentu atau sebuah jemaat tertentu; tetapi beberapa di antaranya (misalnya, Galatia, 1 Petrus, 2 Petrus, Wahyu) dibuat dengan maksud disebarkan pada lingkungan pembaca yang lebih besar. Bagaimanapun juga, tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang kanonis (canonical, yaitu kitab dan surat autentik yang dianggap bagian Kitab Suci) diakui sebagai firman Allah dan, karena itu, dihargai, dan salinannya mulai dibuat segera setelah aslinya ditulis. Kita diberitahu oleh para pemimpin gereja mula-mula (church fathers) tentang sebagian dari proses penyalinannya; hal-hal yang lain dapat kita ketahui melalui penarikan kesimpulan. Maka dalam waktu yang singkat banyak salinan beredar. Kemudian setelah masa waktu yang tak diketahui lamanya, tulisan-tulisan yang asli menjadi usang dan akhirnya hilang. Dengan cara bagaimanapun, kitab-kitab disalin dan diedarkan di mana-mana di daerah yang semakin luas. Dewasa ini masih ada kurang lebih dari 6000 naskah, baik yang tinggal sebagian maupun yang utuh, dari Perjanjian Baru. Tentu saja ada banyak lagi salinan yang dibuat pada abad-abad yang dulu tetapi yang kemudian binasa karena satu atau lain sebab. Pada tahun-tahun 1500-an mesin cetak diciptakan, dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang pertama kali dicetak dan diterbitkan dengan eksemplar banyak pada tahun 1516. Mulai waktu itu berhentilah sistem penyalinan naskah dengan tangan. Golongan-golongan naskah Perjanjian Baru Apabila kita memeriksa dan menilai semua naskah yang masih ada pada kita, naskah tersebut dapat digolongkan dalam empat golongan, yang biasa diistilahkan sebagai golongan teks (texttype). Yang pertama dari keempat ini dinamakan teks Barat. Naskah-naskah yang termasuk golongan ini diberi ciri perluasan bebas, uraian dengan kata-kata sendiri, dan perubahan kata yang ada sebelumnya. Secara relatif, tidak banyak naskah tergolong golongan teks ini. Anggotanya yang paling terkenal adalah naskah D/05. (Untuk mempermudah rujukan, masingmasing naskah diberi julukan yang terdiri dari angka atau angka yang bergabung dengan huruf besar [huruf Latin, huruf Yunani, atau satu kali dengan huruf Ibrani].) Golongan teks yang kedua dinamakan teks Alexandria. Golongan ini dianggap penting karena ada beberapa naskah golongan ini yang sangat kuno, yaitu dari abad keempat atau abad kelima. Naskah-naskah yang termasuk golongan ini diberi ciri disunting (recensional), artinya, dianggap hasil dari penyunting yang berusaha memperbaiki teks yang terdapat dalam naskah-naskah lain, yakni mungkin suatu perbaikan pada perubahan dan tambahan pada teks Barat. (Ciri ini disangkal oleh pendukung golongan teks Alexandria, yang menganggapnya sebagai teks yang paling murni.) Naskah-naskah yang paling terkenal di golongan teks ini adalah kodeks Aleph ( )dan B, keduanya ditulis dalam abad keempat, dan juga beberapa naskah papirus dini yang ditemukan di Mesir. (Iklim Mesir yang sangat kering memungkinkan naskah papirus tahan lama; di iklim yang lembab papirus cepat rapuh.) Di antara naskah papirus itu ada yang dibubuhi tanggal sebelum tahun 200 Masehi. Sebagaimana juga dengan golongan teks apa saja, golongan teks Alexandria tidak seragam; memang menurut penilaian beberapa pakar naskah-naskah yang termasuk golongan teks Alexandria lebih berlainan satu sama yang lain daripada naskah-naskah golongan teks yang lain. Umpamanya kedua kodeks Aleph ( )dan B berbeda satu sama lain sekitar 3000 kali dalam keempat Injil saja. Teks Kaisaria, walaupun cukup berbeda sehingga tergolong tersendiri, pada umumnya tidak dianggap calon yang serius untuk tulisan yang asli. Malah, kelihatannya semacam campuran bacaan dari berbagai teks-teks Byzantium dan Alexandria. Teks Byzantium merupakan golongan teks yang paling besar, diwakili oleh banyak naskah, yang juga didukung oleh banyak bacaan yang terdapat pada terjemahan-terjemahan mula-mula, dan juga terdapat dalam karangan oleh para pemimpin gereja yang dini. Dari semua naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani, sekitar 95% mengandung teks yang bersifat Byzantium. Pusat semua naskah ini ialah wilayah yang bahasa utamanya bahasa Yunani yaitu di Italia bagian selatan, daerah Yunani sendiri, dan kebanyakan Turki dari abad keempat sampai dengan penemuan percetakan dalam abad kelima belas. Naskah dari wilayah ini sebelum abad keempat sedikit atau sama sekali tidak ada; situasi ini akan dibahas di bawah, di mana sanggahan-sanggahan terhadap model prioritas teks Byzantium dibicarakan. Indonesian Laymans Guide
4
1/12/2018
Mengapa ada perbedaan di antara naskah-naskah Pada mulanya hanya satu teks yang asli; jadi bagaimana sampai ada perbedaan di antara naskah-naskah yang disalin dari teks asli itu; dan khususnya mengapa keempat golongan teks tersebut di atas berbeda? Sebab utamanya ialah bahwa proses penyalinan mengakibatkan variasi-variasi sehingga naskah-naskah yang disalin berbeda dari naskah sumber (exemplar). Ada dua jenis variasi yang utama. Pertama, ada kesalahan penyalin yang tidak disengaja. Peribahasa bahasa Inggris yang berbunyi khilaf itu sifat manusia (To err is human) memang cocok untuk menggambarkan apa yang seringkali terjadi dalam proses penyalinan. Bagaimanapun kehati-hatian seseorang, ia akan berbuat salah dalam upayanya membuat salinan yang benar terhadap teks sumber yang ada di depannya. Diakui bahwa ada bermacam-macam penyalin. Ada yang lebih berhati-hati, baik yang bersifat demikian maupun yang terdidik dalam hal itu. Ada juga yang kurang berhati-hati. Boleh dibuktikan bahwa para penyalin teks Perjanjian Baru yang berhati-hati jauh lebih banyak jumlahnya, meskipun tak dapat dielakkan bahwa mereka tetap dapat berbuat salah yang tidak disengaja dalam proses penyalinan. Untuk memahami dengan jelas apa perbedaan di antara dua teks yang persis sama kecuali adanya beberapa bacaan yang berlawanan, periksalah yang berikut dari 1Korintus 13 (berdasarkan TB):
Indonesian Laymans Guide
5
1/12/2018
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagibagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagibagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk menyombongkan diri, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak angkuh dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Namun pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Pada dua kolom di atas, yang di bagian kiri adalah teks dari TB, sedangkan di bagian kanan persis sama kecuali tiga bacaan yang berlawanan. Perbedaan kedua teks digaris bawahi. Misalnya, di sebelah kiri ada frase untuk dibakar, sedangkan di sebelah kanan ada frase untuk menyombongkan diri. Ini merupakan perbedaan kecil dalam bahasa Yunani: kauthesomai dibakar dibandingkan kaukhesomai menyombongkan diri. Naskah-naskah sebagai sumber varian-varian itu tidak usah kita bicarakan di sini. Kalau Saudara ragu-ragu bahwa secara mudah penyalin berbuat salah dalam proses penyalinan, coba menyalin beberapa bab dari Perjanjian Baru sendiri. Kemudian periksalah kesesuaian di antara jilid teks tercetak yang Saudara salin dengan naskah yang Saudara sendiri salin. Atau coba menyalin beberapa bab yang sama tadi dari teks yang berbahasa Yunani (atau dari bahasa apa pun yang belum Saudara kuasai). Pasti lebih banyak kesalahan akan timbul dalam salinan Saudara jika menyalin dari teks yang dalam bahasa asing. Ini penting, karena ada banyak penyalin naskah Perjanjian Baru yang tidak menguasai bahasa Yunani. Jenis perbedaan yang kedua dalam naskah-naskah Perjanjian Baru ialah yang sengaja dibuat. Variasi jenis ini secara logis dibagi dua macam. Pertama, ada upaya yang sengaja untuk memperbaiki kesalahan yang dimasukkan pada naskah-naskah yang disalin sebelumnya, baik yang benar salah maupun yang dirasa salah padahal tidak. Kemungkinan besar, upaya itu memperbaiki kesalahan yang tak sengaja pada teks yang disalin (itu mudah dibuktikan) dan mungkin juga memperbaiki ungkapan-ungkapan yang dirasa kurang tepat yang sebenarnya asli (itu mungkin secara teoretis, tetapi jauh lebih sukar dibuktikan). Kedua, ada perubahan yang sengaja di dalam proses penyalinan, termasuk penyesuaian, perbaikan berdasarkan tradisi agama, dan perubahan yang disebabkan karena doktrin. Proses penyesuaian berarti mengubah satu perikop supaya lebih mirip dengan perikop lain yang paralel. Dalam Injil Sinoptik (yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas) ada banyak perikop yang paralel, misalnya perikop tentang peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Matius 3.13-17; Markus 1.9-11; Lukas 3.21-22). Seringkali dalam naskah-naskah Injil yang tertentu, ada dua varian: varian A persis sama dengan perkataan dalam perikop yang paralel dalam Injil Sinoptik yang lain, sedangkan varian B berbeda dengan perkataan dalam perikop Indonesian Laymans Guide 6 1/12/2018
yang paralel itu. Banyak pakar langsung beranggapan bahwa varian B-lah yang asli, dan mereka beranggapan bahwa varian A hanya merupakan hasil penyesuaian. Anggapan itu tidak logis, karena dalam Injil Sinoptik ada perikop-perikop yang mengadung perkataan yang persis sama, tanpa varian-varian. Perbaikan berdasarkan tradisi agama ialah proses penambahan pada teks untuk membuatnya lebih mendukung kesalehan. Misalnya, penambahan kata Tuhan pada suatu teks yang hanya terdiri dari kata Yesus Kristus. Perubahan doktrin berarti menyesuaikan teks untuk menjadikan maknanya lebih menyokong suatu sisi doktrin yang tertentu. Sebelum kita berjalan terus, penting kami menjelaskan bahwa dari beribu-ribu naskah Perjanjian Baru yang ada pada kita sampai sekarang tidak ada dua naskah yang persis sama. Namun dalam naskah yang beribu-ribu itu, lebih dari 94% teks adalah persis sama/serupa. Hanya ada satu tulisan yang asli, sedangkan semua salinan yang dibuat tidak serupa. Maka jelas bahwa ada kesalahan penyalinan di masing-masing salinan. Tugas utama kupasan teks (textual criticism) ialah untuk menentukan dari naskah-naskah salinan yang ada bagaimana bentuk teks yang aslisemua salinan itu mengandung perbedaan-perbedaan pada berbagai-bagai tempat, kebanyakan berasal dari kesalahan penyalinan. Kedua golongan teks yang utama Dewasa ini ada tiga aliran pikiran yang utama tentang hal identitas teks Perjanjian Baru. Aliran-aliran pikiran itu diwakili oleh kedua golongan teks utama yang dibicarakan di atas, yaitu teks Byzantium dan teks Alexandria, dan oleh aliran pikiran yang mencampur berbagai golongan teks berdasarkan pengupasan yang memilih dari berbagai sumber golongan teks. Teks Byzantium sering dihina hanya oleh sebab sebagian besarnya mirip dengan Textus Receptus (nama bahasa Latin yang berarti Teks yang Diterima). Padahal Textus Receptus itu adalah wakil jelek dari golongan Teks Byzantium. (Sebenarnya, Textus Receptus dan bentuk teks (textform) Byzantium dewasa ini berbeda satu sama lain di lebih dari 1800 tempat dalam Perjanjian Baru. Perbedaan itu meniadakan celaan orang yang menyamakan teks Byzantium dan Textus Receptus.) Teks Byzantium adalah golongan teks yang paling besar (lebih dari 95% dari semua naskah bahasa Yunani). Hal ini tidak dapat disangkal. Orang yang berusaha menyalahkannya harus sekurang-kurangnya membicarakan asalnya serta perkembangannya di dalam aliran penurunan teks (stream of textual transmission) sampai menjadi teks yang dominan paling tidaknya dari abad keempat sampai dengan penciptaan mesin cetak. Sebenarnya kalau kita mau membahas hal ini, kita perlu sebuah teori; demikian pula pencela teks Byzantium perlu menjelaskan dominasi teks Byzantium itu sepanjang sejarah dengan mengembangkan teorinya sendiri mengenai bagaimana teks-teks diturunkan. Dewasa ini, ada dua sanggahan yang dilontarkan pada teks Byzantium. Sebenarnya kedua sanggahan itu dibuatbuat saja dan tidak berdasarkan kekurangan dalam teori prioritas teks Byzantium. Yang pertama adalah sanggahan yang diajukan oleh Westcott dan Hort kurang lebih 135 tahun yang lalu; sanggahan ini memberi kesan bahwa naskah-naskah golongan teks Byzantium berkembang biak karena pada bagian akhir abad keempat ada maklumat, mungkin oleh suatu dewan gerejawi, untuk mengedarkan satu edisi Perjanjian Baru yang sah. Katanya, edisi itu disokong oleh jemaat-jemaat setempat, kemudian disebarkan terus dan akhirnya memperoleh dukungan hampir sedunia. Masalah dengan penjelasan tersebut ialah bahwa tidak ada bukti sedikitpun dari sejarah yang dapat memperkuatnya. Sanggahan yang kedua (lebih lazim dewasi ini) mengadakan hipotesis tentang teks Byzantium sebagai akibat suatu proses yang berabad-abad lamanya, akan tetapi perincian-perincian yang dikedepankan untuk mendukung hipotesis ini kurang lengkap dan tidak cukup untuk menerangkan data yang ada. Semua ini didasarkan atas fakta bahwa kita tidak mempunyai naskah-naskah golongan teks Byzantium dini (sebelum abad keempat). Akan tetapi hal ini tidak dapat dipakai sebagai bukti bahwa tidak ada golongan teks Byzantium sebelum abad keempat. Ingatlah bahwa kita hanya memiliki sejumlah kecil naskah-naskah golongan apa pun dari zaman sebelum abad keempatdan yang ada dalam hal ini hanyalah satu naskah (P75) yang sepenuhnya dari satu golongan teks tertentu (Alexandria). Di sini kami memberi suatu analogi (cerita kiasan) sebagai ilustrasi. Umpamanya, dalam satu ibu kota kecamatan di Jawa, ada banyak arsip yang disimpan pada suatu kantor. Dalam arsip tersebut, ada tanda bukti bayar untuk semua akte kelahiran yang pernah diterbitkan dalam kecamatan itu. Ada kurang lebih 6.000 tanda bukti bayar. Waktu arsip tersebut diteliti, ternyata 95% dari akte kelahiran itu adalah untuk orang yang bersuku Jawa, sedangkan 5% untuk orang bukan Jawa (yaitu orang Tionghoa, orang Sunda, dsb). Hampir semua tanda bukti bayar yang ada di kantor itu ditulis sesudah tahun 1985. Hampir semua arsip yang dibuat sebelum 1985 sudah hilang. Setelah dicari-cari dalam gudang yang paling belakang, akhirnya ditemukan hanya enam tanda bukti bayar yang bertanggal sebelum 1985. Waktu kita meneliti enam tanda bukti bayar itu, ternyata semua untuk akte Indonesian Laymans Guide
7
1/12/2018
kelahiran orang non-Jawa. Nah, kesimpulan apa yang wajar kita tarik dari data itu? Apakah kita berani menegaskan bahwa Sebelum tahun 1985, tidak ada akte kelahiran yang diterbitkan dalam kecamatan itu untuk orang Jawa? Tentu tidak! Data tentang akte kelahiran dari zaman sebelum 1985 kurang lengkap. Malah, lebih masuk akal kita menemukan kesimpulan seperti ini: Kemungkinan besar, keadaan sebelum tahun 1985 sama dengan keadaan yang sesudah tahun 1985 itu, yaitu mayoritas akte kelahiran yang diterbitkan di kecamatan itu adalah untuk orang yang bersuku Jawa. Begitu juga keadaan naskah-naskah Perjanjian Baru. Ada hampir 6.000 naskah bahasa Yunani yang ditulis sesudah abad keempat, dan mayoritas naskah itu berisi golongan teks Byzantium. Naskah-naskah bahasa Yunani yang dari zaman sebelum abad keempat sangat sedikit, tetapi di antara naskah-naskah itu tidak ada yang berisi golongan teks Byzantium. Apakah ini berarti bahwa tidak ada golongan teks Byzantium sebelum abad keempat? Tentu tidak! Kemungkinan besar, mayoritas naskah yang ditulis sebelum abad keempat berisi golongan teks Byzantium juga, tetapi data dari abad-abad yang pertama itu sangat langka. Hampir semua naskah yang kuno itu hilang. Mungkin banyak orang tidak mau menerima teori prioritas teks Byzantium karena alasan yang berikut: anggapan bahwa golongan teks Byzantium memang wakil yang terbaik dari tulisan-tulisan asli (inilah teori prioritas teks Byzantium) begitu berterus-terang sehingga dianggap terlalu sederhana. Dengan penerimaan itu kita dapat menjelaskan dengan mudah data yang terdapat pada naskah-naskah. Pendekatan yang menganjurkan keunggulan golongan teks Alexandria jauh lebih rumit. Golongan teks yang lain adalah Alexandria. Golongan teks Byzantium terdapat pada daerah tradisional pemakaian bahasa Yunani, yaitu di Italia bagian selatan dan di sekitar Laut Aegea (Yunani dan Turki) dan juga terdapat dalam rentang waktu berabad-abad. Tidak sama dengan golongan teks Alexandria; golongan teks itu diwakili oleh naskah-naskah yang pada umumnya berasal dari Mesir, yaitu satu daerah yang berdwi-bahasa (bahasa Yunani dan bahasa Koptik). Dan naskah-naskah itu hanya dari abad-abad permulaan masa Kristen saja; pada abad-abad yang berikut, golongan teks Alexandria rupanya musnah. Tidak ada satu naskah yang mewakili secara penuh suatu golongan teks. Hal itu benar baik untuk teks Byzantium maupun untuk teks Alexandria. Karena itu seharusnya ada penilaian bukti naskah-naskah yang ada berdasarkan suatu teori yang tertentu. Untuk kedua golongan teks, yaitu teks Byzantium dan teks Alexandria, harus ada suatu teori dasar yang menyebabkan pilihan-pilihan yang dilakukan dalam perjalanan menentukan wakil terbaik dari tulisan-tulisan yang asli. Untuk golongan teks Byzantium teorinya mulai dengan mencari ilmu sejarah mengenai bagaimana teks-teks disalin dan disebarkan (sejarah penurunan). Pada setiap langkah dalam proses ini, pertimbangan tersebut diutamakan dan dipertimbangkan dengan hati-hati. Menyusul itu, data dari sumber-sumber luar diberi penilaian; kemudian pada akhirnya pertimbangan dalam dinilai. Pada langkah apa saja, kalau ditemukan adanya bacaan varian (variant readings), pertimbangan tersebut diterapkan oleh teorinya untuk memilih di antara varian-variannya. Usaha-usaha menemukan kembali teks: pendekatan yang memilih dari berbagai-bagai sumber Sebaliknya, pilihan pada golongan teks Alexandria didasarkan pada kecenderungan yang lebih suka/percaya teks yang terdapat dalam naskah-naskah yang lebih tua tetapi yang berisi golongan teks yang sangat langka, yaitu golongan teks Alexandria. Sebenarnya pendukung pendekatan ini tidak mempunyai teori yang lengkap tentang penurunan teks yang dapat dijadikan dasar keputusan-keputusan pemilihannya. Yang jelas ialah kecenderungan pendukung-pendukung golongan teks Alexandria lebih menyukai teks yang terdapat pada naskah-naskah Alexandria pada umumnya dan tidak menyukai teks yang terdapat pada naskah-naskah Byzantium. Apalagi, pendukung-pendukung golongan teks Alexandria dan pendekatan yang memilih dari berbagai-bagai sumber (eclectic) kelihatannya menganggap, sepertinya, ada bencana dahsyat terhadap teks pada permulaan zaman Kristen yang mengakibatkan tidak ada satu pun naskah yang tidak terkena bencana itu. Menurut pandangannya, tidak ada teks satu pun apalagi golongan teks yang selamat dari bencana tersebut dan yang dapat digunakan sebagai teks yang berwenang untuk memedomani keputusan-keputusannya tentang teks-teks. Malah, menurut pandangannya, sisa-sisa carikan teks itu hanya dapat diperbaiki kembali ke keadaannya yang semula berdasarkan usaha perbaikan satu per satu. Akibat dari proses yang dibuat secara serampangan itu, maka teks yang direkonstruksi melalui usaha tersebut mengandung varian-varian yang tidak terdapat pada naskah apa pun juga yang ada pada kita sekarang. Kalau kita mengikuti metode pendukung-pendukung metode memilih dari berbagai-bagai sumber (eclectic), maka kita bergantung pada akal dan kepandaian dari pengupas teks itu sendiri. Keputusan-keputusan panitia penyunting diterima sebagai keputusan akhir. Menurut pandangan golongan teks Alexandria, tidak ada dasar Indonesian Laymans Guide 8 1/12/2018
sejarah untuk menjadi jalan keluar selain dari pertimbangan dan kepandaian akal kita. Analisis itu sendiri yang memutuskan secara teoretis apa yang ada pada teks aslinya. Kesaksian yang cukup banyak dari penyalin-penyalin dan pembaca-pembaca mulai dari tulisan-tulisan asli sampai dengan sekarang diabaikan begitu saja. Untuk memahami bagaimana buruknya akibat metode ini, pertimbangkanlah contoh yang berikut. Pada suatu ayat tertentu di teks Perjanjian Baru bahasa Yunani anggaplah bahwa terdapat dua bacaan varian yang berlawanan, yaitu A dan B. Tentu apa yang ditulis oleh pengarang teks asli bukan A dan B, melainkan A atau B atau dari suatu sumber yang lain. Bacaan A terdapat dalam naskah-naskah a, b, c, d, e, f, sedangkan bacaan B terdapat dalam naskah-naskah g, h, i, j, k, l. Pada ayat yang sama ada juga bacaan varian yang berlawanan dengan yang lain, yaitu X dan Y: varian X terdapat dalam naskah-naskah k, l, m, n, o, p, dan varian Y terdapat dalam naskah-naskah a, b, g, h, s, t. Pertimbangan dan pembahasan pendukung metode memilih dari berbagai-bagai sumber mengambil keputusan bahwa bacaan-bacaan A dan X adalah yang asli. Saudara dipersilakan menilai: apakah metode ini masuk akal? Tidak ada satu naskah pun yang mengandung bacaan A dan X, yang dipilih sebagai bacaan asli itu. Untuk menekankan poin yang penting ini dengan kata yang mudah dimengerti, perhatikanlah analogi yang berikut. Anggaplah bahwa lima orang telah menyalin suatu daftar yang sama yang terdiri atas dua puluh hal. Sekarang daftar asli yang disalin hilang sehingga kita harus menyusunnya kembali dari kelima salinan yang ada. Orang A, B, dan C membuat daftar salinan yang persis sama. Namun salinan orang D berbeda dari salinan orang A, B, dan C hanya dalam satu poin, katakanlah poin 12. Salinan orang E juga berbeda dari salinan-salinan orang A, B, dan C, tetapi pada poin 18. Pendekatan yang memilih dari berbagai-bagai sumber mungkin menarik kesimpulan bahwa daftar asli yang disalin kelima orang itu sama dengan poin 12 pada salinan orang D dan juga sama dengan poin 18 pada salinan orang E. Tetapi sebenarnya pendekatan itu untuk penyusunan kembali itu menghasilkan daftar yang tidak terdapat pada satu pun dari kelima salinan itu. Perhatikan bahwa metode ini menghasilkan teks yang tidak terdapat dalam satu pun naskah yang ada pada kita. Tidak ada satu pun naskah yang mendukung bacaan A yang juga mendukung bacaan X. Panitia telah menentukan sebuah bentuk teoretis untuk ayat ini, sebagaimana mereka berpendapat bahwa sumber aslinya tidak pernah dilirik oleh pembaca siapa saja selama hampir dua puluh abad (sejauh yang dapat ditentukan berdasarkan naskah-naskah yang diketemukan sampai sekarang). (Kemungkinan-kemungkinan yang lain, yaitu AY, BX dan BY, semuanya mendapat dukungan dari paling sedikit dua naskah dalam contoh yang kita buat ini.) Mari kita coba menjelaskannya dengan data yang sebenarnya. Dalam Yohanes 5.2 ada dua perangkat bacaan yang berlawanan yang terdapat pada naskah-naskah yang masih ada pada kita. Yang pertama, ada kurang lebih tujuh bacaan varian yang merupakan beberapa gabungan urutan dari frasa (di/pada) Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang disebut. Dan yang kedua, ada enam varian tentang nama tempat itu, yaitu: Belzetha, Bethesda, Bethsaida, Bedsaida, Bedsaidan, atau Bethzatha. Hasil pendekatan yang memilih dari berbagai-bagai sumber mengakibatkan suatu bacaan yang bergabung dan berututan yaitu ada di Yerusalem pada Pintu Gerbang Domba sebuah kolam yang disebut dalam bahasa Ibrani Bethzatha dengan lima serambinya. Masalah dengan hasil itu ialah dengan menentukan bacaan pertama (yang kebetulan sama dengan teks Byzantium) panitia memilih bacaan yang terdapat dalam sebuah gabungan naskah-naskah yang saling menyisihkan dengan naskah-naskah yang mendukung pilihannya bagi bacaan kedua, yaitu Bethzatha. Fakta yang jelas adalah bacaannya yang bergabung yang dipilih oleh panitia itu tidak terdapat dalam naskah apa pun yang ada pada kita. Sebaliknya dalam banyak naskah yang berisi teks Byzantium tertulis: ada di Yerusalem pada Pintu Gerbang Domba sebuah kolam yang disebut dalam bahasa Ibrani Bethesda dengan lima serambinya. Bacaan yang tergabung itu terdapat dalam ratusan naskah yang ada pada kita dan juga memperagakan keutuhan teks dari segi sejarah dan penurunan. (Kebetulan Terjemahan Baru Bahasa Indonesia sesuai dengan bacaan terakhir ini; transkripsi Bethesda sama dengan Betesda dalam TB.) Yang mengejutkan ialah bahwa dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani suntingan modern yang isinya dipilih dari berbagai-bagai sumber, ada sekurang-kurangnya 105 ayat yang dibuat-buat saja. Yaitu, ayat-ayat tersebut mirip dengan contoh kita di atas, yang memilih AX sebagai teks sumber padahal tidak ada naskah satupun yang mengandung A dan X. Apabila kita memeriksa dua ayat berturut-turutkemudian tigakeadaannya lebih buruk lagi, yaitu perikop yang dibuat-buat tanpa bukti dari naskah-naskah, terus bertambah-tambah! (Apabila kita sebenarnya memeriksa perangkat dua ayat yang berurutan, jumlah pasangan ayat yang dibuat-buat meloncat ke 315.) Kesimpulan yang menyedihkan ialah bahwa edisi Perjanjian Baru yang paling lazim dipakai zaman ini, yaitu yang berdasarkan teori eclectic dan yang mengutamakan golongan teks Alexandria, tidak pernah ada Indonesian Laymans Guide
9
1/12/2018
untuk pembaca siapa pun selama sejarah masa Kristen. Dengan kata lain, dalam penggalan-penggalan teks pendek teks terbaik yang dibuat dari berbagai-bagai sumber sama sekali tidak ada bukti terhadap adanya dalam sejarah penurunannya; dan pernyataan tegas mereka untuk mewaliki tulisan asli atau perkiraan yang terdekat pada tulisan asli tersebut, sama sekali tidak dapat dibenarkan berdasarkan naskah-naskah yang ada, dari versi-versi (version) dari zaman gereja mula-mula, atau dari karangan para pemimpin gereja yang mula-mula (church fathers) itu. Apabila kita membaca uraian-uraian untuk masing-masing penyusunan kembali teks, mungkin kita dapat diyakinkan oleh pertimbangan dalam (internal evidence) dan pertimbangan luar (external evidence) yang ditunjukkan. Tetapi yang aneh ialah ketiadaan uraian-uraian yang mendukung teks yang berturut-turut sebagai akibat pada penggalan-penggalan teks pendek, khususnya apabila yang dibuat kembali itu sebenarnya tidak pernah terdapat pada suatu naskah apa pun. Golongan teks Byzantium disalahkan oleh ketiadaan dukungan naskah-naskah sebelum abad keempat yang mencerminkan pola persetujuan sesuai dengan golongan teksnya. Namun pemakai edisi modern yang pilihan-pilihannya dibuat dari berbagai-bagai sumber (hampir selalu dari golongan teks Alexandria) diharapkan menerima sebagai asli suatu teks yang tikak memiliki pola persetujuan dalam teks mana saja termasuk pada rentangan yang paling pendek (bahkan ketiadaannya pada suatu gabungan naskah-naskah), atau dukungan dari terjemahan yang permulaan itu ataupun karangan para pemimpin gereja selama sejarah naskah-naskah. Dasar-dasar prioritas teks Byzantium Sebenarnya apakah metode inti yang memberikan prioritas pada golongan teks Byzantium? Walaupun Hort memperjuangkan golongan teks Alexandria, ada perkataannya yang mendukung prioritas golongan teks Byzantium: Tetap ada praanggapan teoretis bahwa mayoritas naskah-naskah jauh lebih mungkin mewaliki mayoritas naskah-naskah tertua pada setiap tingkat penurunan daripada sebaliknya. Di bidang pengetahuan yang non-alkitabiah, pernyataan tersebut diterima sebagai anggapan dasar. Dianggap bahwa semua dokumen yang ditulis tangan disalin dan disebarkan melalui cara yang biasa, baik itu dokumen sekuler maupun dokumen rohaniah. Kalau kita memeriksa seorang penulis yang sekular dan klasik (Homer), kita menemukan situasi yang sama di antara naskah-naskah yang masih ada dari karangan-karangannya. Memang, ada tiga jenis teks untuk naskah-naskah tadi: yakni teks yang singkat, teks yang panjang, dan teks yang sedang (yang tidak singkat dan tidak panjang). Untuk naskah-naskah karangan Homer, dalam teks-teks yang lebih singkat terlihat adanya ciri keahlian pengupasan dan penyuntingan teks yang biasa dilakukan oleh orang ilmuwan di Alexandria. (Ingatlah bahwa pada waktu itu kota Alexandria memiliki perpustakaan yang terbesar di kerajaan Roma.) Dan ini juga sesuai dengan naskah-naskah golongan teks Alexandria dari Perjanjian Baru bahasa Yunani: jelas kelihatan prosesproses penyuntingan yang antara lain mempersingkat teks yang disunting. Teks-teks yang lebih panjang mempunyai ciri perluasan dan perbaikan yang populer yang dibuat oleh para penyalin. Perhatikan kesamaan di antara naskah-naskah Homer yang keadaannya demikian, dengan naskahnaskah Perjanjian Baru yang secara kasar bergolongan teks Barat. Dan yang terakhir, di antara kedua golongan teks tadi, adalah teks-teks karangan Homer yang bersifat sedang atau biasa. Sebagaimana dengan teks-teks sekuler, demikian juga dengan teks-teks Perjanjian Baru: naskahnaskah yang mengandung teks sedang itu adalah naskah yang jumlahnya lebih banyak. Ternyata bahwa kegiatan normal oleh penyalin dan keberlanjutan penurunan teks biasanya melestarikan dalam kebanyakan naskah-naskah bukan saja teks yang amat kuno, melainkan juga sebuah teks yang amat murni dan yang amat kuno (kutipan dalam tanda petik tunggal adalah dari Hort). Pandangan yang mengutamakan golongan teks Byzantium itu seringkali ditolak sebagai pemilihan bacaan berdasarakan penghitungan naskah, yaitu varian yang terdapat dalam paling banyak naskah, itulah yang dipilih sebagai asli. Tetapi teori prioritas teks Byzantium sama sekali tidak melakukan penghitungan yang hanya bersifat mekanik. Memang ada banyak kasus (terutama Yohanes 7.53-8.11 dan di Wahyu juga) di mana kesaksian naskahnaskah dibagi-bagi antara lebih dari dua varian dan tidak ada varian tertentu yang terdapat dalam mayoritas naskah. Dalam kasus seperti ini, jelas pendekatan penghitungan naskah yang mekanik tidak akan memecahkan masalah. Dan memang teori prioritas teks Byzantium tidak dijalankan dengan cara seperti itu. Malah prinsip-prinsip yang kami kemukakan di sini (lihat di bawah) mencerminkan suatu penurunan teks yang dipertimbangkan (reasoned transmissionalism) yang menilai pertimbangan dalam dan pertimbangan luar, yang Indonesian Laymans Guide 10 1/12/2018
juga berdasarkan kemungkinan-kemungkinan sesuai dengan penurunan teks. Pertimbangan dalam mencakup hal-hal yang menghasilkan suatu hasil yang diterima berdasarkan kemungkinan hakiki oleh pengupas; yaitu pertimbangan dalam menjawab pertanyaan yang ditanyakan tentang penyalin dan kemungkinan besar apa yang dibuatnya dalam hal apa pun, baik itu yang disengaja atau tidak sengaja. Pertimbangan luar adalah kesaksian naskah-naskah, terjemahan-terjemahan kuno dan karangan oleh para pemimpin gereja mula-mula, semuanya dipertimbangkan untuk menentukan bacaan yang mana yang memiliki dukungan luar yang terbaik. Dalam pandangan yang kami kemukakan di sini, kebiasaan-kebiasaan penyalin-penyalin diperhatikan dengan saksama, yaitu apa yang biasa dilakukan oleh penyalin dalam hal melestarikan, mengubah atau malah merusakkan teks. Pendekatan ini juga mengakui bahwa perkembangan penurunan teks memang benar mengakibatkan adanya golongan-golongan rumpun dan golongan teks. Apalagi, diutamakannya bahwa pada umumnya keutuhan teks dipertahankan sepanjang sejarah penurunan teks itu sendiri. Bagaimana kita menilai pertimbangan dalam Prinsip-prinsip yang digunakan orang-orang yang mendukung teori prioritas teks Byzantium sebagian besarnya sama atau mirip prinsip-prinsip yang digunakan orang yang mendukung pendekatan yang memilih dari berbagaibagai sumber itu dan yang pada umumnya lebih suka golongan teks Alexandria. Akan tetapi, pendekatan teks Byzantium menolak salah satu prinsip pendekatan teks Alexandria, yaitu, bahwa bacaan yang lebih singkat lebih mungkin merupakan bacaan teks asli. Mungkin dapat dituduh bahwa pandangan teks Byzantium menolak prinsip tersebut hanya untuk memperkuat posisinya sendiri dan untuk melawan pendekatan yang menyukai golongan teks Alexandria yang lebih singkat, tetapi tidak demikian. (Perbedaan panjangnya teks Alexandria dan teks Byzantium kurang lebih dua ribu kata di seluruh Perjanjian Baru bahasa Yunani, yaitu sekitar 138.000 kata untuk teks Alexandria dibandingkan dengan 140.000 kata untuk teks Byzantium.) Prinsip itu ditolak hanya karena ada bukti yang meyakinkan bahwa kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para penyalin karena kecenderungan mempersingkat teks jauh lebih sering daripada kesalahan memperluas teks. Penyelidikan-penyelidikan akhir-akhir ini tentang kebiasaan-kebiasaan penyalin memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas tentang fakta tersebut di atas. (Lihat juga prinsip Prinsip Pertimbangan Dalam 8 di bawah.) Di bawah ini kami memperkenalkan Prinsip Pertimbangan Dalam yang digunakan oleh teori prioritas teks Byzantium. Prinsip Pertimbangan Dalam 1: Bacaan yang lebih mungkin mengakibatkan semua bacaan lainnya dalam suatu kesatuan variasi, bacaan itulah yang lebih mungkin merupakan bacaan teks asli. Prinsip ini diterima oleh kedua aliran pikiran, tetapi dengan perbedaan yang berikut. Pendekatan yang memilih dari berbagai-bagai sumber menggunakan prinsip ini untuk tiap-tiap kejadian varian yang berdiri sendiri-sendiri. Sebaliknya teori prioritas teks Byzantium menuntut bukan saja mengetahui bagaimana beberapa varian yang bersaing itu mungkin dapat diturunkan dari yang aslinya, tetapi juga mengetahui bagaimana dalam proses menyalin suatu teks bacaan sedemikian dapat terjadi berhubungan dengan kesatuan-kesatuan varian yang berdekatan itu. Sebagai penjelasan prinsip ini, lihat contoh berikut yang dari Yohanes 9.4. Dalam teks UBS (United Bible Societies, yaitu teks modern yang dikupas berdasarkan prinsip-prinsip yang memilih bacaan-bacaan dari berbagaibagai sumber) ayat tersebut berbunyi demikian (dalam terjemahan): KITA harus mengerjakan pekerjaan dia yang mengutus AKU, sedangkan dalam teks Byzantium ayat tersebut berbunyi begini: AKU harus mengerjakan pekerjaan dia yang mengutus AKU. Dukungan naskah-naskah bagi berbagai gabungan KITA/AKU dan AKU/AKU dan KITA/KITA sebagai berikut: KITAAKU = B 070; AKUAKU = Byz a A C f1 f13 33 lat syr; KITAKITA = P66 P75 *L W bo; (satu-satunya gabungan yang tidak terbukti keadaannya ialah AKUKITA). Tidak logis bahwa bacaan yang terdapat hanya dalam dua naskah saja (B dan 070) dari ratusan naskah, terjemahan-terjemahan dini dan karangan para pemimpin gereja mula-mula dapat membangkitkan semua bacaan yang lain. Jauh lebih mungkin bahwa bacaan Byzantium (Byz), yaitu AKUAKU, adalah teks asli, kemudian teks asli ini diubah oleh para penyalin Alexandria menjadi kalimat ajakan KITAKITA, yang pada kemudian hari dicampuradukkan oleh penyalin naskah B dan 070 menjadi KITAAKU. (Singkatan-singkatan yang dipakai untuk bermacam-macam naskah sebaiknya tidak menjadikan sang pembaca takut. Contoh di atas dapat saja ditangkap maksudnya tanpa pembaca mengetahui identitas naskah-naskah yang tertentu, yang dapat ditemukan pada banyak edisi Perjanjian Baru bahasa Yunani yang memberikan kupasan.) Indonesian Laymans Guide 11 1/12/2018
Prinsip Pertimbangan Dalam 2: Bacaan yang lebih sukar diciptakan oleh penyalin, bacaan itulah yang cenderung dipilih sebagai bacaan teks asli. Prinsip ini berdasarkan anggapan bahwa biasanya seorang penyalin tidak memilih untuk membuat suatu bacaan lebih sukar pada teks yang disalinnya, melainkan bacaan yang lebih sederhana. Namun tidak dapat disangkal bahwa ini terjadi secara tidak sengaja. Mengingat keutuhan seluruh penurunan teks, prinsip yang dibahas di sini perlu diubah sebagai berikut: bacaan yang lebih sukar lebih mungkin merupakan bacaan teks asli apabila terdapat pada sejumlah naskah yang banyak; tetapi jika bacaan yang sukar itu terdapat dalam satu naskah saja atau dalam beberapa naskah yang saling berhubungan saja, maka bacaan itu tidak mungkin merupakan bacaan yang asli. Prinsip ini jelas dalam Lukas 6.1 di mana teks Byzantium berbunyi en sabbat deuteroprt (arti harfianya: pada sabat kedua-pertama), sedangkan teks UBS (yaitu teks yang dikupas dari pilihan berbagai-berbagai sumber) berbunyi en sabbat (pada [suatu] sabat). Bacaan dalam teks UBS itu menolak bacaan kedua-pertama yang sulit ditafsirkan. (Tidak ada orang yang tahu arti kata itu dengan tepat pada dewasa ini, tetapi kata itu tidak mungkin asal dibuat tanpa alasan, apalagi dibuat secara tidak sengaja.) Pembicaraan yang berikut mungkin melampaui batas penjelasan yang sederhana untuk orang awam, tetapi akan mengandung pelajaran untuk pembaca yang tekun belajar! Textual Commentary oleh Metzger hanya dapat memecahkan masalah bacaan Byzantium melalui proses yang begitu berbelit, yang sama sekali tidak meyakinkan. Uraian oleh Metzger sebagai berikut: (1) yang asli adalah sabat; (2) seorang penyalin yang menyusun melihat adanya sabat yang lain disebut pada Lukas 6.6, sehingga dia bertindak sengaja memasukkan pertama setelah sabat; (3) seorang penyalin kedua mengingat [!] bahwa ada sesuatu berhubungan dengan sabat (bentuk jamak!) terjadi sebelumnya pada Lukas 4.31, dan penyalin itu menganggap bahwa sabat dalam ayat itu berbentuk tunggal, dan dengan demikian menganggap Lukas 4.31 sabat pertama, tetapi anggapan itu menjadikan Lukas 6.1 sabat kedua; (4) sesuai dengan anggapan penyalin tadi kata kedua dicatat olehnya pada pinggiran halaman dan titik-titik (tanda salah) diletakkannya di atas kata pertama pada teks utama untuk menandai bahwa itu sebaiknya dihapuskan; (5) pada kemudian hari, seorang penyalin ketiga yang menyalin teks itu memasukkan kata kedua itu, sesuai dengan usulan yang di pinggir halaman, tetapi tidak melihat titik-titik di atas kata pertama, dan dengan demikian membiarkan bacaan deuter prt (kedua pertama) yang bukan-bukan itu sebagai teks utama; (6) pada akhirnya, seorang penyalin keempat memecahkan kesulitan tersebut dengan menyatukan dua kata itu menjadi satu kata, yaitu deuteroprt, dan juga dalam prosesnya ia mengubah ejaannya dan tak peduli apakah bacaan itu masuk akal (kalau penyalin itu memperhatikan kewajaran bahasa, maka pasti dia menghapuskan kata deuter ataupun prt atau kedua-duanya); (7) naskah yang tunggal itu kemudian menjadi sumber dari hampir semua naskah lain yang diturunkan sepanjang sejarah penurunan teks, dan hampir tidak ada perbaikan apa saja yang dibuat untuk mengalihkan yang asli, sekalipun tidak ada yang dapat mengerti apa makna kedua-pertama itu. Memang pertanyaan kita adalah: Apakah rangkaian peristiwa-peristiwa yang rumit seperti ini mungkin terjadi? Dan seandainya rangkaian peristiwa itu terjadi, apakah masuk akal bahwa suatu naskah yang menyimpang itu dapat menjadi sumber dari hampir semua naskah yang lain tanpa banyak percobaan untuk memperbaiki bacaan yang begitu sukar? Satu hal lagi yang melemahkan hipotesis ini adalah bahwa tidak ada naskah apa pun yang memberi bukti mengenai langkah-langkah pertengahan dalam rangkaian peristiwa itu. Dibandingkan dengan itu, pemecahan yang lebih mudah (prioritas teks Byzantium) nyata: apa pun arti kata kedua-pertama pada abad pertama, istilah itu jelas lebih sukar; dan pada pertengahan abad kedua pemahaman makna ungkapan itu hilang. Jadi oleh karena bacaan yang sukar itu, beberapa penyalin (yang umumnya dari Mesir atau yang menyalin teks bergolongan Alexandria) kemudian menghilangkan saja istilah tersebut (P4 B L W f1 33 579 1241 2542 pc it sy-p, sy-hmg sa bo-pt). Prinsip Pertimbangan Dalam 3: Bacaan yang sesuai dengan gaya, kosa-kata dan tata bahasa penulis asli, bacaan itulah yang cenderung dipilih sebagai bacaan asli. Prinsip ini menganggap bahwa pada umumnya lebih mungkin para penyalin mengubah secara tak sengaja gaya dan kosa-kata penulis asli yang karangannya mereka salin, daripada menyesuaikan dengan sengaja salinannya pada gaya dan kosa-kata si penulis. Namun prinsip ini perlu digunakan dengan hati-hati. Misalnya, Yohanes sering memakai partikel oun (oleh karena itu). Tetapi partikel de (tetapi; namun) lebih banyak dipakai dalam Injil Yohanes daripada oun. Kalau begitu, bila kita memeriksa satu ayat dalam Injil Yohanes, dan ternyata dalam banyak naskah tertulis oun tetapi dalam naskah lain tertulis de, apa yang kita lakukan? Kita tidak dapat menentukan bacaan mana yang asli dengan prinsip 3 ini Indonesian Laymans Guide
12
1/12/2018
karena kedua-dunya mengikuti gaya atau kosa-kata si pengarang. Mungkin kita dapat memilih bacaan mana yang asli jika proses pemilihan kita dibuat sesuai dengan pertimbangan penurunan teks dalam sejarah. Prinsip Pertimbangan Dalam 4: Bacaan-bacaan yang secara jelas menyesuaikan atau mengubah perkataan suatu perikop supaya lebih mirip perikop yang lain ditolak. Memang dalam proses penyalinan, si penyalin kadang-kadang menyesuaikan teks yang disalin supaya lebih mirip dengan perikop yang lain. Tetapi para pengupas yang mendukung teks Alexandria menyangka bahwa proses penyesuaian seperti itu sering terjadi, sehingga mereka menggunakan prinsip ini berlebihan. Mereka yang tidak setuju dengan teori prioritas teks Byzantium menganggap bahwa proses penyesuaian itu adalah tindakan yang lazim oleh para penyalin yang menyalin teks-teks Byzantium. Tetapi kalau seandainya para penyalin teks Byzantium berbuat begitu, tentu semua penyalin yang menyalin naskah dari aliran teks apa saja juga berbuat demikian. Sebenarnya, hasil proses penyesuaian itu hanya sesekali terdapat dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Kita tahu bahwa ada perikopperikop dalam ketiga Injil Sinoptik yang sejajar dan yang persis sama kata demi kata, dan teks untuk perikop tersebut tidak diragukan. Jadi ketika terdapat bacaan varian, mengapa varian yang lebih mirip paralelnya dalam perikop lain ditolak sebagai hasil penyalin yang menyelaraskan teks? Mengapa varian itu tidak diterima sebagai hasil kerja penulis asli sendiri? Sekali lagi, aparatus (apparatus) menunjukkan kepada kita bahwa proses penyesuaian tidak terlalu sering terjadi seperti diduga oleh para pendukung teks Alexandria. Sekali lagi ini membuktikan bahwa sejarah penurunan teks harus dipertimbangkan untuk semua calon kasus penyesuaian teks. Prinsip Pertimbangan Dalam 5: Bacaan-bacaan yang dapat dilihat sebagai ekspresi kesalehan penyalin atau perluasan dan perubahan yang didorong oleh alasan agama dianggap sekunder. (Istilah sekunder di sini berarti bahwa bacaan atau varian tersebut tidak ada dalam tulisan asli melainkan diciptakan kemudian oleh penyalin-penyalin.) Mengenai varian-varian sejenis ini, naf memilih bacaan yang lebih singkat sebagai yang asli, sedangkan menganggap bacaan lainnya sebagai perluasan yang berdasarkan kesalehan. Misalnya pada 1 Korintus 5.5, teks Byzantium memilih sebagai teks asli pada hari TUHAN YESUS; bacaan ini terdapat dalam ratusan naskah Byzantium, dan juga terdapat dalam kodeks Aleph (( )satu kodeks yang mengandung golongan teks Alexandria). Teks UBS (yaitu teks yang dipilih dari berbagai-bagai sumber itu) memilih sebagai teks asli bacaan yang paling singkat: pada hari TUHAN; bacaan ini terdapat dalam dua naskah Alexandria yang kuno, yaitu p46 dan B, dan beberapa naskah lain. Bacaan yang paling panjang adalah pada hari TUHAN KITA YESUS KRISTUS; bacaan ini terdapat dalam kodeks A dan beberapa naskah lain (ada naskah yang pakai KITA, ada yang tidak pakai). Jelas bahwa bacaan yang terdapat dalam golongan teks Byzantium, yaitu bacaan yang di tengah itu, adalah bacaan yang asli, dan dari bacaan itu semua bacaan lain diturunkan. Sebenarnya ada banyak bentuk yang lebih panjang menyangkut nama ketuhanan Yesus dan Allah di sepanjang Perjanjian Baru bahasa Yunani yang sama sekali tidak ada variasi apa pun; ternyata, semua itu asli. Prinsip Pertimbangan Dalam 6: Hal yang paling penting dalam penilaian berbagai varian seharusnya berdasarkan evaluasi akan apa yang paling mungkin terjadi dalam proses penyalinan. Prinsip ini dimulai oleh Westcott dan Hort lebih dari 130 tahun yang lalu, tetapi diterapkan secara tidak konsisten. Dengan kata yang sederhana, prinsip ini dapat dijelaskan begini: satu kesalahan tunggal atau perubahan yang sengaja tidak mungkin dilestarikan dalam jumlah naskah yang banyak. Ada banyak bacaan yang unik yang tidak jadi disalin, sebaliknya bacaan yang unik itu punah dengan naskah yang memuatnyaatau yang paling banyak dibatasi pada beberapa naskah saja. Hal itu menjadi bukti bahwa kebanyakan perubahanbaik yang disengaja maupun yang tidak sengajatidak diteruskan oleh para penyalin yang berikut ke dalam teks-teks yang disalinnya. Prinsip Pertimbangan Dalam 7: Kesalahan tulis dalam penyalinan lebih mungkin menjadi sumber utama banyak varian yang masuk akal daripada perubahan yang disengaja. Banyak bacaan varian itu akibat kesalahan tulis dalam penyalinan. Ini termasuk semua bacaan yang tidak masuk akal (yaitu yang bukan-bukan), tetapi termasuk juga banyak bacaan yang masuk akal yang disebabkan karena kehilangan suatu huruf, suku kata atau kata, ataupun kesalahan yang disebabkan karena haplografi (haplography), ditografi (dittography), homoioteleuton atau kesalahan sejenisnya (penjelasan istilah ini terdapat pada akhir makalah). Maksud prinsip ini adalah sebagai berikut: apabila kita menyelidiki varian-varian dalam teks, sebaiknya kita mencari dulu penjelasan yang berdasarkan proses penyalinan untuk bacaan varian tersebut. Kalau bacaan varian tersebut tidak bisa dijelaskan berdasarkan proses penyalinan, barulah kita mengambil jalan yang mencari penjelasan yang mengira perubahan itu sengaja dibuat. Prinsip Pertimbangan Dalam 8: Bacaan yang lebih singkat maupun bacaan yang lebih panjang, kedua-duanya tidak lebih mungkin merupakan bacaan asli. Hipotesis pengupas-pengupas teks yang memilih dari berbagai-bagai Indonesian Laymans Guide
13
1/12/2018
sumber adalah bahwa para penyalin mempunyai kecenderungan untuk memperluas teks yang mereka salin, baik terhadap nama-nama ketuhanan maupun dengan menggabungkan dan menyesuaikan perikop yang tidak sama. Akan tetapi kebiasaan penyalin sebagaimana dibuktikan dalam data yang ada pada kita, sama sekali tidak mendukung hipotesis sedemikian. Kalau para penyalin memang cenderung memperluas teks, maka di seluruh Perjanjian Baru tentu terdapat banyak sekali gelar-gelar ketuhanan yang diperpanjang, serta perikop-perikop yang paralel yang disesuaikan sebanyak-banyaknya, dan hasil akhirnya adalah teks yang jauh lebih diperluas dan digabungkan (conflated) keseluruhannya. Sebenarnya hal seperti itu sama sekali tidak demikian. Dengan kata lain, anggapan utama yang digunakan pengupas-pengupas yang memilih dari berbagai-bagai sumber, dibuktikan salah, dan ini adalah suatu praanggapan yang pada dasarnya berat sebelah pada teks Alexandria. Namun demikian, praanggapan bahwa bacaan-bacaan yang lebih panjang itu lebih mungkin merupakan bacaan asli yang berat sebelah pada teks Baratpada dasarnya tidak punya dukungan. Bagaimana kita menilai pertimbangan luar Suatu alat yang primer untuk metode prioritas teks Byzantium adalah menilai pertimbangan luar penurunan teks dalam bingkai sejarah. Hal yang pokok bukan jumlah naskah yang mendukung suatu bacaan, melainkan bagaimana setiap bacaan mungkin terjadi dalam proses penyalinan teks sepanjang sejarah. Cita-cita kita adalah untuk menghasilkan teks yang didukung oleh kelompok-kelompok naskah yang mirip sama menyatu. Di bawah ini kami memperkenalkan Prinsip Pertimbangan Luar yang digunakan oleh teori prioritas teks Byzantium. Prinsip Pertimbangan Luar 1: Karena begitu banyak naskah teks untuk Perjanjian Baru yang ada pada kita, maka sama sekali tidak perlu metode perbaikan yang bersifat menerka saja [conjectured emendation]. Dengan kata lain, jika ada beberapa bacaan dalam satu ayat, kita sama sekali tidak perlu menciptakan suatu bacaan yang tidak terdapat dalam naskah mana pun, lalu menganggap bahwa bacaan yang dibuat-buat itu adalah bacaan teks asli. Hanya anggapan bahwa tulisan asli hilang sama sekali dari semua saksi yang ada (yakni naskah, terjemahan kuno, karangan para pemimpin gereja mula-mula) dapat membenarkan metode yang bersifat menerka. Ada lebih banyak saksi/bukti untuk Perjanjian Baru daripada karangan apa pun lainnya di antara semua sastra yang ditulis dengan tangan di zaman kuno; oleh karena itu sama sekali tidak ada alasan mengerjakan usaha menerka-nerka dalam menentukan teks asli. Prinsip Pertimbangan Luar 2: Bacaan yang muncul hanya sesekali dalam sejarah penurunan teks, dicurigai. Akar (yaitu tulisan asli) menghasilkan cabang-cabang (naskah yang disalin dari tulisan asli itu). Itu cara yang biasa dalam menurunkan teks. Dalam proses menyalin, memperbanyak dan menyebarkan tulisan asli itu, biasanya/seharusnya kebanyakan salinan yang dibuat akan sangat mirip tulisan asli.
Suatu bacaan yang terdapat dalam hanya satu naskah atau hanya satu terjemahan kuno atau hanya satu karangan oleh pemimpin gereja mula-mula dicurigai. Tidak masuk akal bahwa hanya ada satu naskah yang tidak menyimpang dari teks yang asli.
Bacaan-bacaan yang terdapat hanya dalam beberapa naskah dicurigai. Biarpun bacaan itu terdapat dalam beberapa naskah yang bergolongan sebagai golongan teks, kalau golongan naskah atau golongan teks itu merupakan golongan yang kecil dibandingkan dengan golongan teks yang lain, bacaan itu tetap dicurigai.
Prinsip Pertimbangan Luar 3: Keanekaan kesaksian lebih kokoh sebagai bukti. Yaitu, jika bukti untuk satu bacaan terdapat dalam berbagai-bagai sumber, dukungan untuk bacaan itu cukup kuat. Sebaliknya jika bukti untuk satu bacaan terdapat dalam satu macam sumber saja, maka dukungan itu tidak kuat. Prinsip ini ada dua bagiannya, masing-masing tidak cukup menentukan teks dengan pasti, tetapi satu atau lainnya memperkuat dukungan pada bacaan tertentu.
Suatu bacaan yang didukung oleh berbagai terjemahan kuno dan yang terdapat dalam karangan pemimpin gereja mula-mula memiliki dukungan yang lebih luas keanekaannya daripada suatu bacaan yang tidak memiliki dukungan tersebut. Semakin beraneka dukungan semakin baik. Tetapi tidak cukup jika suatu bacaan didukung hanya oleh berbagai terjemahan kuno dan karangan pemimpin gereja mula-mula. Kalau bacaan itu tidak terdapat dalam naskah-naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani, bacaan itu pasti sekunder (yaitu tidak asli).
Di antara naskah-naskah bahasa Yunani, suatu bacaan yang terdapat dalam naskah dari golongan-golongan teks yang berbeda lebih kuat dukungannya daripada bacaan yang terbatas
Indonesian Laymans Guide
14
1/12/2018
hanya pada suatu golongan teks atau pada naskah-naskah yang serumpun saja. Golongan teks Byzantium lebih sering beruntung berdasarkan prinsip ini: yaitu, ada lebih banyak bacaan yang terdapat dalam teks Alexandria dan teks Byzantium, atau yang terdapat dalam teks Barat dan teks Byzantium, daripada bacaan yang terdapat dalam teks Alexandria dan teks Barat tetapi tidak terdapat dalam teks Byzantium. Prinsip Pertimbangan Luar 4: Di mana pun juga, jumlah kasar dari naskah-naskah sebaiknya dikurangi melalui sistem yang menilai kelompok-kelompok naskah yang berkeluarga. Untuk naskah-naskah yang tertentu, jelas bahwa naskah yang satu disalin dari naskah yang lain; naskah yang disalin itu merupakan anak dari naskah sumbernya jadi naskah-naskah itu merupakan naskah yang berkeluarga atau serumpun. Untuk maksud perhitungan, setiap golongan atau rumpun seperti itu seharusnya dihitung sebagai satu kesatuan. Yang tidak logis ialah memaksakan suatu silsilah naskah yang menganggap keseluruhan suatu golongan teks sebagai suatu kesatuan bagi maksud penghitungan (begitu anggapan lawan-lawan terhadap golongan teks Byzantium), sementara menganggap setiap naskah dari golongan teks lainnya sebagai saksi yang amat bernilai. Golongan teks yang dianggap asli berdasarkan faktor-faktor penurunan dapat dinamakan bentuk teks yang asli (original textform) yaitu golongan teks yang sedekat mungkin pada tulisan asli; dari bentuk teks ini semua golongan teks lain diturunkan. Atas dasar ini, golongan teks Byzantium adalah golongan teks yang satu-satunya layak menjadi dasar bentuk teks yang asli itu. Semua golongan teks yang bersaingan satu dengan yang lain merupakan golongan teks atau rumpun yang diturunkan dari bentuk teks asli yang tunggal, dan karena itu perlu dianggap sekundar. Prinsip Pertimbangan Luar 5: Naskah-naskah tetap perlu dipertimbangkan dan bukan saja dihitung. Meskipun prinsip empat di atas benar, namun semua naskah perlu digolongkan menurut nilainya berdasarkan kupasan teks, atau bobotnya. Yang menjadi dasar untuk bobot naskah tertentu ialah bagaimana naskah itu dapat dipercaya secara penyalinan. Misalnya, suatu naskah yang belakangan mungkin disalin dari naskah yang jauh lebih kuno dan yang berisi bentuk teks yang dini; suatu naskah yang disalin dengan tepat mungkin disalin dari naskah yang berisi bentuk teks yang tidak bermutu; suatu naskah yang disalin secara jelek mungkin disalin dari naskah yang berisi suatu bentuk teks yang sebaliknya unggul. Oleh karena itu, penentuan kebiasaan masing-masing penyalin menjadi hal yang penting sekali. Misalnya, kalau kita melihat dalam satu naskah bahwa si penyalin cenderung melompati satu kata sehingga kata tersebut tidak disalinnya (yaitu dia membuat haplografi), maka naskah itu kurang dipercayai apabila kita sedang menilai bacaan-bacaan varian yang mungkin timbul karena kesalahan seperti itu; dan lain sebagainya. Meskipun prinsip ini sudah lama dianggap penting, secara relatif begitu sedikit pernah diteliti tentang penilaian kebiasaan masing-masing penyalin. Lebih sering, prinsip ini tidak dipakai kecuali untuk meremehkan bentuk teks Byzantium. Prinsip Pertimbangan Luar 6: Penting untuk mencari bacaan-bacaan yang dapat dibuktikan sudah ada pada abad-abad yang lebih dini. Ketuaan atau umur suatu naskah tidak sepenting umur dari teks yang disalin dalam naskah itu. (Tentu teks yang tertulis dalam satu naskah lebih kuno daripada naskah itu sendiriingatlah bahwa tugas seorang penyalin ialah menyalin teks dari naskah yang lama agar terbitlah naskah yang baru. Dan ketuaan satu teks dapat dinilai dari bacaan-bacaan yang tercantum dalam teks itu.) Sekalipun begitu, penting mencari pembuktian keaslian yang paling dini untuk suatu bacaan tertentu dari antara bukti yang masih ada. Apabila untuk suatu bacaan tidak ada dukungan yang begitu dini, mungkin bacaan itu perlu dicurigai; namun demikian, apabila suatu bacaan dapat ditentukan sebagai berasal dari zaman dahulu kala, hal itu saja tidak membuatnya lebih diyakini sebagai yang asli. Bagaimana cara untuk menentukan bacaan yang mana yang dini dan bacaan yang mana belakangan? Pada abad ke-19 Westcott dan Hort menganggap banyak bacaan sebagai bacaan sekunder dan belakangan. Tetapi naskah-naskah yang ditemukan setelah itukhususnya di antara papirus-papirus di Mesirmembuktikan bahwa banyak bacaan yang disebut belakangan itu tidaklah belakangan melainkan amat dini. Sekarang diakui secara luas bahwa kebanyakan, kalau bukan semua, bacaan yang pantas sudah ada sebelum tahun 200 Masehi; demikianlah kita harus hati-hati menyatakan kurangnya umur bagi sebuah bacaan tertentu hanya karena berdasarkan usia naskah-naskah yang ada pada kita yang mengandung bacaan itu. Sudah dikenal dan diterima secara umum bahwa beberapa naskah yang belakanganbahkan naskah yang dibuat dalam zaman minuskul (yang mulai pada abad kesembilan)tetap mengandung bacaan-bacaan nonByzantium yang dini. Kalau begitu, tentu masuk akal bahwa naskah-naskah minuskul yang mengandung teks yang bersifat Byzantium juga dapat mempunyai sifat dini yang sama. Padahal anggapan itu menjadi batu Indonesian Laymans Guide
15
1/12/2018
sandungan bagi para pendukung teks Alexandria. Kalau anggapan itu diterima, kita tidak boleh meremehkan suatu naskah cuma karena naskah tersebut diberi tanggal belakangan. Ada alasan-alasan yang logis untuk menganggap bahwa semua naskah sampai dengan akhir abad kesepuluh atau awal abad kesebelas mengandung bacaan dan golongan teks yang dini. Ada kemungkinan bahwa suatu naskah minuskul yang ditulis pada abad kesembilan disalin langsung dari naskah unsial yang ditulis pada abad keempatdan naskah unsial itu disalin langsung dari papirus dari abad kedua. Kalau begitu, naskah minuskul yang belakangan itu mengandung teks yang hanya beberapa langkah dari tulisan asli. Apa yang terjadi sehingga naskah Byzantium dari abad-abad belakangan dapat mengandung teks yang jauh lebih kuno? Ada dua peralihan atau transisi yang besar dalam sistem penyalinan selama sejarah penurunan teks Perjanjian Baru (sebutlah sebagai revolusi-revolusi penyalinan) yang dapat memberi penjelasan terhadap adanya naskah-naskah belakangan yang mengandung teks yang jauh lebih dini. Pada kedua masa peralihan itu banyak naskah kunoyang mungkin sudah ratusan tahun dipakai sehingga menjadi lusuhdisalin ulang lalu dibuang, sehingga diganti secara keseluruhan oleh naskah-naskah yang disalin. Masa peralihan yang pertama terjadi ketika Kaisar Constantine mengesahkan agama Kristen pada tahun 313 Masehi dengan mengeluarkan Proklamasi Milan. Pada saat itu umat Kristen yang dulu merupakan minoritas yang dianiaya menjadi penganut agama yang diakui, bahkan disponsori pemerintah. Sebelum tahun 313 Masehi itu hampir semua naskah Perjanjian Baru ditulis pada papirus yang murah dan mudah rapuh, tetapi setelah tahun itu penyalin naskah Perjanjian Baru mulai menggunakan vellum yang mahal dan tahan lama. Tiba-tiba kitab suci yang ditulis di atas vellum menjadi sangat laris. Akibatnya, kegiatan penyalinan meningkat dan tumbuh dengan subur. Kepentingan revolusi penyalinan pertama ini adalah berikut: Ada banyak naskah unsial yang mengandung teks yang bersifat Byzantium; kebanyakan naskah tersebut ditulis pada abad kelima, keenam, atau sampai abad kesembilan. Walaupun naskah unsial tersebut dibuat pada abad belakangan, ada kemungkinan bahwa sebagian dari naskah itu disalin langsung dari naskah papirus yang diniatau mungkin disalin dari unsial lain tetapi unsial itu sendiri disalin langsung dari naskah papirus yang dini. Jadi naskah unsial yang tertanggal belakangan itu berisi teks yang langsung atau hampir langsung dari papirus yang dini. Hal ini masuk akal sama dengan kemungkinan bahwa naskah unsial Aleph ( )dan B disalin dari naskah papirus dini. (Aleph ( )dan B adalah dua naskah unsial yang bersifat teks Alexandria dan yang sangat dihargai oleh para pengupas teks dewasa ini yang mengutamakan naskah-naskah Alexandria.) Kalau begitu, maka semua unsial vellum sebaiknya digunakan sebagai saksi yang penting tentang teks asli Perjanjian Baru dan bukan saja unsial yang berisi golongan teks Alexandria seperti yang disukai oleh pengupas-pengupas teks yang mengutamakan naskah-naskah Alexandria. Revolusi penyalinan yang kedua terjadi pada abad kesembilan (tahun 800-900 Masehi) pada waktu sistem penulisan tangan berubah secara cepat dari abjad yang unsial (yaitu menulis huruf-huruf besar secara cetak/terpisah) ke abjad yang minuskul (yaitu menulis huruf-huruf kecil secara kursif/berhubungan). Dalam waktu 150 tahun, yaitu dari sekitar tahun 800 sampai tahun 950 Masehi, penulisan unsial menjadi makin langka, sehingga menjadi punah dan tidak dipakai lagi oleh para penyalin Perjanjian Baru. Dampak revolusi penyalinan kedua ini seperti yang pertama: dalam beberapa tahun saja, naskah-naskah unsial dari waktu jauh lebih dini disalin dengan memakai sistem tulisan baru yang populer itu, kemudian naskah yang dini itu dibuang. Perkembangan ini terjadi pada waktu ada masa pembangkitan kembali dari pengetahuan dan kealiman di dunia Byzantium waktu itu. Pembangkitan kembali itu membuat pakar-pakar mencari teks yang lebih baik dengan kembali ke naskah-naskah yang lebih kuno. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa naskah minuskul yang memiliki golongan teks yang diakui dini (pada umunya golongan teks Alexandria). Prinsip Pertimbangan Luar 7: Anggapan bahwa ada suatu naskah tertentu yang terbaik ataupun sekelompok kecil naskah yang terbaik tidak mungkin mendapat dukungan dari bukti-bukti penurunan teks. Ada beberapa naskah yang belakangan yang mengandung teks yang dini; bahkan naskah-naskah yang penyalinannya kurang baik dapat juga memuat salinan teks-teks yang bagus; apalagi naskah-naskah yang disalin dengan hati-hati dapat disalin dari teks yang rendah mutunya. Dalam masing-masing golongan teks beberapa naskah lebih mencerminkan golongannya daripada naskah yang lain. Meskipun semua itu benar, pertimbangan terhadap penurunan teks cenderung menghindarkan anggapan bahwa ada suatu naskah tertentu atau golongan kecil naskah yang bermutu statusnya. Prinsip ini tetap benar untuk perangkat naskah-naskah yang mendukung bentuk teks Byzantium. Tidak ada suatu naskah tertentu yang dapat dianggap terbaik. Indonesian Laymans Guide
16
1/12/2018
Prinsip Pertimbangan Luar 8: Kecenderungan untuk memilih bacaan yang terdapat dalam naskah atau saksi yang tertua tanpa dukungan yang lain dapat disalahkan berdasarkan prinsip penurunan teks. Yang tertua, itulah yang terbaik adalah prinsip yang keliru karena naskah-naskah yang disalin belakangan mungkin dapat mengandung teks yang lebih kuno dari yang terdapat pada naskah-naskah yang lebih dini. Prinsip Pertimbangan Luar 9: Pertimbangan-pertimbangan menurut penurunan teks bergandengan dengan prinsip-prinsip petimbangan dalam menunjuk pada bentuk teks Byzantium sebagai golongan teks yang penting dalam sejarah penurunan teks. Kami tidak secara otomatis menganggap bentuk teks Byzantium sebagai golongan teks asli ataupun sebagai golongan teks yang unggul. Kesimpulan itu ditarik hanya sebagai kesimpulan logis dari pertimbangan-pertimbangan dalam dan luar tentang kecenderungan penurunan teks. Dan kesimpulan itu sesuai dengan pandangan sejarah yang mirip dengan apa yang terjadi dalam proses penyalinan karya kuno lainnya. Perhatikan bahwa hipotesis prioritas teks Byzantium tidak dapat berbuat apa-apa untuk memecahkan banyak kasus di mana pertimbangan luar terbagi-bagi dan tidak ada bacaan yang dominan yaitu yang terdapat dalam mayoritas naskah sepanjang sejarah penurunan teks. Dalam situasi seperti itu, pertimbangan-pertimbangan dalam yang bergandengan dengan kemungkinan besar penurunan teks harus digunakan untuk menentukan bacaan yang terkuat [yaitu calon yang terkuat untuk teks asli]. Begitu pula, dalam banyak situasi prinsip-prinsip dalam yang tidak dapat menghasilkan keputusan yang jelas [tentang bacaan yang mana harus dipilih sebagai teks asli], sehingga prinsip-prinsip luar memiliki peran besar. Bahkan ada situasi di mana naskah-naskah terbagi-bagi dan di mana pertimbangan dalam tidak menentukan. Dalam kasus seperti itu, kita hanya dapat bersandar pada perkiraan yang paling baik oleh para pakar. Peraturan-peraturan yang utama untuk menilai pertimbangan dalam dan pertimbangan luar secara imbang begitu mudah dan disusun urutannya berdasarkan fakta-fakta yang dikenal tentang kebiasaan-kebiasaan penyalin: (1) Bacaan-bacaan yang bervariasi perlu dipertimbangkan dengan maksud menemukan apa dalam proses penyalinan yang menyebabkan variasi yang tidak sengaja; (2) bacaan-bacaan juga perlu dipertimbangkan terhadap perubahan yang dibuat dengan disengaja; (3) akhiranya, bacaan-bacaan dalam suatu kesatuan yang bervariasi itu harus dipertimbangkan dari pandangan sejarah penurunan teks untuk menentukan atau memodifikasikan penilaian yang mula-mula. Jika metode ini diterapkan secara cermat, penerapannya yang teliti akan menghasilkan kesimpulan benar yang didirikan atas dasar yang kokoh tentang penurunan teks. Metode ini cocok dengan apa yang kita temukan waktu kita memeriksa kebiasaan-kebiasaan penyalin dan juga bersama dengan bukti naskah-naskah yang ada pada tangan kita apabila dipandang dalam proses penurunan teks. Beberapa sanggahan terhadap teori prioritas teks Byzantium Penguraian di atas mendukung bentuk teks Byzantium sebagai golongan teks yang pada umumnya lebih unggul dari golongan teks yang lain. Walau demikian, ada beberapa keberatan atau sanggahan terhadap teori prioritas teks Byzantium yang seharusnya dibahas. Sanggahan 1: Tidak ada naskah-naskah Byzantium yang dini, yaitu sebelum abad keempat. Ada beberapa respon terhadap sanggaan ini. Jika masing-masing respon ini digabung, maka itu merupakan jawaban yang kuat terhadap sanggahan ini.
Bagi karangan kuno yang lain telah diakui bahwa ada kemungkinan bahwa salinan yang masih ada (apabila sedikit) tidak mencerminkan secara tepat proporsi naskah-naskah yang ada dulu [untuk golongan-golongan teks yang berbeda] [Bowers]. Mengapa tidak juga demikian untuk naskahnaskah Perjanjian Baru? Benar, tidak ada naskah yang mengandung teks Byzantium sebelum abad keempat: tetapi ingatlah bahwa naskah-naskah yang mendukung golongan teks Alexandria hanya berjumlah enam puluh tiga dari tahun-tahun awal itu, dan banyak daripadanya hanya mengandung beberapa ayat atau pasal saja. Ada lebih dari 5000 naskah untuk teks Perjanjian Baru, dan kebanyakan naskah tersebut berasal dari abad-abad belakangan.
Kedua revolusi penyalinan yang dibahas di atas mengganggu secara berat aliran penurunan teks. Pada revolusi pertama (abad keempat), naskah-naskah papirus yang ada dari dahulu tidak dipakai lagi ataupun dibinasakan. Begitu pula, pada revolusi kedua, naskah-naskah dengan huruf unsial yang dini disalin pada naskah lain yang memakai huruf minuskul dan tidak dipakai lagi. Oleh karena itu, tidak ada naskah yang layak disukai ataupun dicurigai hanya karena ketuaannya, atau bahannya atau gaya hurufnya, karena ada naskah-naskah dini yang huruf minuskul yang kelihatannya disalin dari naskah unsial yang lebih dini yang kini hilang, dan naskah-naskah unsial itu pun disalin dari naskah-naskah
Indonesian Laymans Guide
17
1/12/2018
papirus sangat dini. Memang benar bahwa tidak ada naskah Byzantium dini sebelum abad keempat, tetapi hal itu seharusnya tidak menjadi masalah.
Naskah-naskah yang terdapat di Mesir yang mengandung golongan teks Alexandria seharusnya dianggap sebagai teks setempat saja. Menurut pendukung teks Alexandria, teks tersebut dipakai secara umum di seluruh kawasan kerajaan Roma yang berbahasa Yunani dari abad pertama sampai abad keempat, tetapi kemudian hari hampir hilang secara keseluruhan. Situasi itu sukar dibayangkanbahkan boleh dikatakan mustahil. Sebaliknya, jauh lebih mudah untuk mempertahankan pendapat bahwa golongan teks Byzantium yang di mana-mana dan dominan itu, walaupun tidak ada buktinya dalam naskah-naskah sebelum abad keempat, pasti ada dan pasti dominan di kawasan yang sama pada abad-abad sebelum abad keempat juga. Naskah-naskah yang dibuat sebelum abad keempat tidak mungkin dapat bertahan sampai sekarang dalam kondisi yang lembab seperti yang biasa di kawasan kerajaan Roma di luar dari Mesir.
Kebanyakan pakar yang memilih dari berbagai-bagai sumber dewasa ini seakan-akan menganggap bahwa teks non-Byzantium dominan di seluruh kawasan kerajaan Roma, tetapi kemudian teks Byzantium menjadi dominan dalam sebagian besar kawasan itu. Sebaliknya, pendukung Byzantium menyatakan kekuatan yang belakangan itu sebagai bukti bagi kekuatan yang dini pada daerah yang sama. Pada mulanya, teks-teks meluas secara geografis dari titik asalnya, dan kedekatan pada kampung halamannya mungkin memberikan kontrol terhadap keutuhan teks itu. Pada abad-abad pertama zaman Kristen, jika kita ragu-ragu tentang suatu bacaan dalam naskah yang kita miliki, gampang saja kita bertanya pada jemaat yang masih melestarikan tulisan asliasal tempat tinggal kita tidak terlalu jauh dari jemaat itu. Tetapi kalau makin jauh tempat tinggal kita dari kampung halaman teks asli, maka makin sulit kita membandingkan salinan kita dengan teks asli itu. Jarak yang makin jauh memperlemah keutuhan teks itu sehingga teks yang tak terkendalikan bisa menjadi populer di daerah yang lebih terpencil. Kalau begitu, di daerah primer penutur-penutur bahasa Yunani, yaitu di daerah Yunani sendiri, di Turki dan sebagian dari Italia, masuk akal bahwa naskahnaskah salinan Perjanjian Baru tetap mempertahankan teks yang lebih murni (yaitu lebih setia pada teks asli) karena sebagian besar surat-surat dalam Perjanjian Baru berasal dari daerah itu dan dikirim kepada jemaat atau orang di daerah itu. Teks yang lebih murni itu adalah teks Byzantium. Teks itu dipertahankan di sana secara hati-hati, termasuk selama masa kesunyian (yaitu abad-abad dini), yang kemudian memperlihatkan dirinya sebagai teks yang unggul setelah bukti yang kuat dari daerah tersebut sudah muncul.
Satu teori yang sudah lama populer tentang Injil-Injil Sinoptik (yaitu Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Lukas) adalah teori Q (singkatan untuk istilah bahasa Jerman yang berarti sumber). Menurut teori Q itu, pada abad pertama ada dokumen (yang diberi julukan Q), dan dokumen Q itu menjadi sumber yang dipakai oleh pengarang-pengarang ketiga Injil Sinoptik, sehingga ada banyak perikop dalam Injil Sinoptik itu yang sangat mirip. Teori Q itu dapat kita pakai sebagai analogi untuk situasi yang kita hadapi dalam naskah-naskah Perjanjian Baru. Adanya dokumen Q itu diusulkan secara tegas oleh banyak pakar, meskipun tidak ada satu bukti pun bahwa pernah ada dokumen tersebut. Jadi, mengapa pakar-pakar yang hampir sama menyangkal secara tegas adanya bentuk teks Byzantium sebelum abad keempat, meskipun buktinya jauh lebih banyak daripada bukti untuk Q? Praanggapan dan prasangka tidak mudah lenyap.
Kodeks Vaticanus (yang diberi kode B atau 03 dalam aparatus buku penerbitan teks Yunani Perjanjian Baru) adalah naskah yang tertulis pada abad keempat yang mengandung golongan teks Alexandria. Sebelum penemuan P75 (sebuah papirus yang berasal dari abad ketiga) pada tahun 1955, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa ada golongan teks Alexandria sebelum abad keempat. Tetapi waktu P75 itu ditemukan, tiba-tiba ada bukti bahwa golongan teks Alexandria ada di abad ketiga. Dengan hal yang sama, lawan-lawan terhadap keaslian bentuk teks Byzantium tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa naskah yang mengandung golongan teks Byzantium yang berasal dari abad kedua atau ketiga akan ditemukan dalam pasir Mesir. Namun demikian, meskipun naskah seperti itu ditemukan, mungkin masih tetap diberi reaksi yang biasa dan diduga dari kupasan teks yang berpangkal pada teks Alexandria, yaitu sebagai naskah yang berisi bacaan-bacaan yang lebih mirip teks Byzantium daripada naskah-naskah dini yang lainnya, tanpa sebenarnya bergolongan teks Byzantium. Indonesian Laymans Guide 18 1/12/2018
Sanggahan 2: Gangguan-gangguan besar dalam sejarah penurunan teks memusnahkan naskah-naskah yang mengandung golongan teks non-Byzantium. Dua gangguan tersebut adalah penganiayaan di bawah Kaisar Diocletian pada awal abad keempat dan serangan Islam pada abad ketujuh dan seterusnya. Meskipun kedua peristiwa itu terbukti secara sejarah, tidak ada bukti bahwa teks-teks non-Byzantium saja yang dikhususkan untuk dimusnahkan. Orang yang menghancurkan kitab-kitab Kristen pada kedua penganiayaan itu jelas tidak menentukan golongan teks yang mana akan dibakar; tentu mereka ingin membakar habis semua jenis teks apa pun. Oleh karena itu, masuk akal bahwa naskah-naskah yang tidak dihancurkan dan yang masih ada sampai sekarang tetap ada dalam ukuran sebagaimana adanya sebelumnya. Sanggahan 3: Pengaruh Chrysostom (seorang pemimpin gereja yang hidup tahun 347-407 Masehi) dan pemimpin gereja lainnya menjadikan teks Byzantium teks yang disukai di kota Konstantinopel (bahasa Inggrisnya: Constantinople); kemudian ada dekrit keputusan pemerintah kerajaan atau gerajawi yang mewajibkan semua jemaat kawasan kerajaan Roma bagian timur memakai teks itu. Tidak masuk akal bahwa seorang pemimpin gereja yang tunggal, bagaimanapun populer dan berpengaruhnya, dapat menciptakan suatu golongan teks setempat yang baru (teks Byzantium yang dimaksud oleh pengecam-pengecamnya) dan dengan demikian memaksa jemaat-jemaat di seluruh wilayahnya meninggalkan teks yang sebelumnya telah dipakai luas di wilayah itu (di sini teks Alexandria dimaksud). Apalagi, tidak ada bukti bahwa waktu belakangan ada surat keputusan pemerintah kerajaan atau gerejawi yang memaksa jemaat memakai teks yang tertentu. Meskipun itu pernah terjadi, penggantian secara keseluruhan suatu teks yang sebelumnya berjaya sukar dibayangkan. Tetapi apabila surat keputusan itu sendiri hanyalah khayalan, maka pernyataan demikian itu gagal secara total. Apalagi, bentuk teks Byzantium terdiri atas beberapa aliran yang berdiri sendiri; hal ini tidak mudah dijelaskan oleh teori yang menduga bahwa teks itu diciptakan pada satu peristiwa tertentu dalam abad keempat. Sanggahan 4: Bentuk teks Byzantium adalah akibat suatu proses yang sepanjang berabad-abad semakin meninggalkan bentuk teks yang asli oleh karena keinginan penghalusan, penyesuaian, dan perbaikan lain termasuk susunan kata. Biasanya dua dukungan untuk sanggahan ini dikemukakan: (1) para penyalin dengan sendirinya tidak menyalin secara akurat, dan (2) persamaan yang erat di antara naskah-naskah mungkin hanya apabila ada semacam kontrol. Sebagai jawaban untuk poin pertama di atas: secara berlawanan telah dinyatakan (Royse, Colwell, Head) bahwa kebanyakan penyalin secara umum cukup berhati-hati dan tepat dalam penyalinan yang dilakukannya. Dalam menjawab poin kedua: tidak terdapat kesatuan yang dipaksakan yang dapat dibuktikan di dalam naskahnaksah bentuk teks Byzantium dan tidak ada bukti pemaksaan kontrol sejak semula. Hodges telah membongkar keberatan proses tersebut dengan pernyataan yang klasik: Belum pernah dijelaskan oleh siapa juga bagaimana proses yang panjang dan lamban yang berjalan berabad-abad bahkan pada wilayah yang luas, dan juga melibatkan sekian banyak penyalin, yang sering kali sama sekali tidak tahu apa saja mengenai keadaan teks di luar biara atau tempat penyalinan (scriptorium) mereka sendiri, yang dapat menghasilkan keseragaman yang tersebar luas dari perbedaan yang diajukan oleh golongan-golognan teks yang lebih dini [Alexandria dan Barat]. Proses yang tak terkendali yang menghasilkan kemantapan dan keseragaman yang relatif dalam keadaan berjenis-jenis secara teks, sejarah dan kebudayaan, yang di dalamnya Perjanjian Baru disalin, itu sukar sekali dibayangkan bahkan sama sekali tidak mungkin [Hodges and Hodges, Implications, 132]. Ringkasan dan kesimpulan Pada bahasan yang terdahulu ini kami mencoba menyederhanakan sebagian dari pembicaraan yang agak teknis yang mendasari teori prioritas teks Byzantium. Sebagai kesimpulan singkat, teori ini lebih unggul menurut penilaian penulis karena dua hal penting yang sangat menentukan. Yang pertama, teori prioritas teks Byzantium adalah teori. Suatu teori menjelaskan data, tetapi teori itu juga bertanggung jawab pada data itu. Pendekatan modern yang memilih bacaan-bacaan dari berbagai-bagai sumber yaitu pendekatan terhadap kupasan teks yang paling populer sekarang (meskipun ada beberapa aliran pikiran di dalam pendekatan itu)bukanlah teori, melainkan praanggapan belaka. Teori prioritas teks Byzantium dapat diuji terhadap data-data dan sebenarnya menyambut pengujian dengan penuh semangat. Paling sedikit yang kita punyai di sini ialah teori. Lain halnya dengan pendekatan yang memilih-milih bacaan dari berbagai-bagai sumber: meskipun keseluruhan data tetap sama, namun dengan pendekatan itu sukar sekali memaju dari data yang ada ke suatu teori yang lengkap. Indonesian Laymans Guide
19
1/12/2018
Yang kedua, teori ini berkecimpung dengan teks. Sebagai penutur dan penulisbahkan sebagai pendengar dan pembacaterhadap bahasa, kita selalu memproses teks (yaitu wacana). Baik lisan ataupun tertulis, teks-teks mempunyai sejarah penurunan jika teks itu dicatat atau dihafal dan diteruskan pada generasi depan. Pemeriksaan suatu teks tanpa kesadaran tentang sejarah penurunannya dalam keadaan yang paling baik pun, mengecewakan, dan dalam keadaan yang paling jelek pemeriksaan itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Naskah-naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani adalah salinan-salinan dari tulisan-tulisan asli yang dikarang oleh para rasul pada abad pertama. Dan sebagian besar dari naskah-naskah itu (di atas 85%) mengandung teks yang amat konsisten, kecuali beberapa naskah yang terdapat pada pinggiran kawasan kerajaan Roma. Teks itu tidak diciptakan untuk sekarang ini, melainkan telah bertahan selama berabad-abad sedemikian rupa sehingga jemaat pada setiap angkatan dan abad memiliki teks itu, yang pada umumnya dalam bentuknya yang dominan secara jelas, yaitu bentuk teks Byzantium. Penulis menganggap bahwa semua kutipan yang ditandai lambang tanda kutipan cukup jelas untuk dimengerti oleh orang awam (kecuali yang diubah dari bentuk aslinya dan ditandai dengan lambang [ ]) dan akan menolong pengertian pembaca. penulis Timothy Friberg, PhD penerjemah Sadrak Kurang, ThD Januari 2011; diperbaiki Januari 2018 Penjelasan untuk Orang Awam ini telah menerima banyak koreksi dari para ahlitidak semuanya yang menguntungkandan orang awam selama proses pemerbaikannya yang berlangsung lima tahun. Kira-kira tiga puluh orang yang telah memberi sumbangan terlalu banyak untuk disebut di sini, hal mana tidak mengurangi hutang budi saya kepada mereka. Cukuplah di sini menyebut salah satu wakilnya, yaitu Bpk. Michael Martens, yang telah menjadi penyunting yang setia dan berpengertian tajam yang terlibat dalam banyak versi makalah ini (baik yang bahasa Inggris maupun yang bahasa Indonesia) sejak titik mula sampai saat ini. Dalam usaha saya memperjelas teori prioritas teks Byzantium, saya telah dilampaui oleh Pak Michael dengan usahanya memperjelas penjelasan saya. Terima kasih, Pak Michael.
Indonesian Laymans Guide
20
1/12/2018
Daftar istilah: apparatus (aparatus) perangkat data, biasanya pada bagian bawah halaman teks, mengenai bacaan-bacaan naskah yang terdapat dalam ayat-ayat yang ada pada halaman itu, dimaksud memberikan secara singkat cukup penjelasan supaya pembaca sendiri dapat mempertimbangkan bukti yang ada. autograph (tulisan asli) lihat: original manuscript di bawah. bacaan (bahasa Inggris: reading) apa yang tertulis dalam satu naskah atau dalam sekelompok naskah. Misalnya, lihat Yohanes 1.42. Dalam sebagian besar naskah bahasa Yunani yang ada pada kita (sekitar 99%), tertulis Ina; yaitu, Yesus memanggil Petrus Simon anak Yona. Tetapi dalam beberapa naskah, bukan nama Ina yang tertulis, melainkan Iannou, yaitu Yesus memanggil Petrus Simon anak Yohanes. Dan dalam beberapa naskah yang lain terdapat nama Ianou, yaitu nama Yohanes tetapi dieja dengan cara yang tidak baku. Kesimpulannya, dalam semua naskah bahasa Yunani terdapat tiga bacaan: Ina (Yona), Iannou (Yohanes), dan Ianou (Yohanes dengan ejaan yang tidak baku). Ketiga bacaan ini disebut variant readings atau bacaan varian; lihat variant readings di bawah dalam daftar kata ini. canonical (kanonis, resmi, berwenang, sah) yang berhubungan dengan atau yang membentuk kanon (canon), secara harfiah kanon itu adalah kata dari bahasa Yunani yang berarti sejenis buluh yang dipakai sebagai alat pengukur/mistar; jadi kanon itu adalah ukuran yang baku, yaitu kumpulan kitab-kitab yang berwenang/otoritatif. Untuk Perjanjian Baru kanon adalah kedua puluh tujuh kitab yang diterima oleh umat Allah sebagai berwenang. church fathers (pemimpin gereja mula-mula) para pemimpin agama Kristen pada zaman gereja mula-mula; dalam karangan oleh para pemimpin gereja mula-mula itu (yang disebut karangan patristik) mereka mengutip dari Perjanjian Baru dan membahas bagian-bagian dari Perjanjian Baru; kutipan dan komentar itu merupakan kesaksian tentang teks Perjanjian Baru yang ada pada zaman itu. conflated (digabung), conflation (penggabungan) penggabungan dua atau lebih bacaan yang terdapat dalam beberapa naskah menjadi suatu keutuhan yang disatukan dalam naskah yang lain; misalnya: dalam teks A tertulis Dia masuk ke dalam rumah; dalam teks B tertulis Dia duduk dalam rumah; dan dalam teks C tertulis Dia masuk duduk dalam rumah; bacaan yang terdapat dalam teks C adalah penggabungan (conflation) dari bacaan yang ada di teks A dan teks B. conjectural emendation (perbaikan yang bersifat menerka) mengajukan satu bacaan sebagai calon untuk teks asli, bukan dengan cara memilih di antara bacaan-bacaan yang terdapat dalam naskah-naskah yang ada, melainkan dengan cara menciptakan bacaan sendiri berdasarkan terkaan tanpa bukti yang mendukung. dittography (ditografi) menuliskan suatu huruf, rangkaian huruf atau suatu kata dua kali, yang seharusnya satu kali saja (misalnya, dalam teks yang disalin tertulis dia tidak mau menyerah tetapi si penyalin menulis dia tidak mau tidak mau menyerah). eclectic (yang memilih dari berbagai-bagai sumber) pendekatan yang memilih yang kelihatannya terbaik dari berbagai pilihan; misalnya, dalam satu ayat memilih bacaan yang terdapat di golongan teks A, dalam ayat berikut memilih bacaan yang terdapat di golongan teks B, dalam ayat yang berikut memilih bacaan yang terdapat dalam satu naskah saja, dst. exemplar (naskah sumber) naskah yang dipakai sebagai teks sumber dalam penyalinan naskah baru; misalnya, setelah Rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaat Roma, tentu ada banyak orang yang memakai tulisan asli (original manuscripts) itu sebagai naskah sumber untuk membuat salinan, kemudian salinansalinan itu menjadi naskah sumber untuk salinan yang berikut, dst; perhatikan bahwa kata eksemplar biasa dipakai dalam bahasa Indonesia dengan arti lain dari istilah bahasa Inggris exemplar. extant (masih ada pada kita) dari semua naskah Perjanjian Baru yang pernah disalin, sebagian besar tidak ada lagi; yang lain sudah hancur, atau hilang, terbakar, dsb; naskah yang masih ada paka kita disebut extant (istilah bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Latin yang berarti masih ada); ada sekitar 6000 naskah pada kita sekarang; kalau ada lagi naskah kuno yang ditemukan, naskah itu akan menjadi extant pula. external evidence (pertimbangan luar) kesaksian naskah-naskah, versi (yaitu terjemahan-terjemahan dini), dan karangan para pemimpin gereja mula-mula yang dipertimbangkan untuk menentukan bacaan-bacaan mana yang paling didukung sebagai bacaan asli (external evidence ini dibandingkan dengan internal evidence; lihat di bawah). Indonesian Laymans


0 comments
Sign in to join the conversation.